fbpx

Bunda, Ini Perbedaan 8 Jenis Gangguan Kemampuan Bicara Anak

by | Feb 28, 2023 | Tumbuh Kembang, Keluarga, Nutrisi

Anak merupakan pelengkap kebahagiaan sepasang suami istri yang telah menikah. Kehadiran anak menjadi aset paling berharga yang perlu dijaga dan dirawat oleh orang tua. Bagi orang tua yang hadir sepenuhnya dalam mendidik dan merawat si Kecil tidak akan melewatkan masa emasnya, yang dimulai dari usia 0-5 tahun. Dalam merawat tumbuh kembang anak, salah satu momen yang menjadi sorotan orang tua yakni dalam perkembangan bicaranya.

Ketika anak sudah mulai bisa mengeluarkan satu kata atau merespons ketika dipanggil membuat lelah dalam merawatnya sedikit berkurang, karena merasakan kebahagiaan atas perkembangan buah hati tercinta.

Namun, terkadang si Kecil tidak mencapai milestones sesuai usianya, pun juga dalam perkembangan bicaranya. Kadang si kecil mengalami keterlambatan bicara atau bermasalah dengan bahasa, yang mana tidak sama seperti anak-anak lain pada umumnya.

Berbagai Jenis Gangguan Bicara dan Bahasa si Kecil

Dalam mendeteksi gangguan perkembangan tersebut maka Ayah dan Bunda perlu untuk membedakan gangguan perkembangan bicara si Kecil berdasarkan penyebabnya.

1. Speech Delay

Speech delay atau terlambat bicara merupakan ketika kemampuan bicara anak tidak sesuai dengan usianya.

si Kecil yang mengalami gangguan bicara bisa mengalami stres 

si Kecil yang mengalami gangguan bicara bisa mengalami stres

Namun, perlu Ayah Bunda garis bawahi setiap anak mengalami perbedaan dalam perkembangan bicara. Ketika, anak mengalami gangguan bicara tidak bisa langsung dikatakan speech delay. Karena, Ayah Bunda perlu dulu mengetahui tahapan perkembangan bicara pada anak sesuai usianya.

Menurut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah memberikan tolak ukur yang jelas dalam tahapan perkembangan bicara pada anak sejak usia dini, yakni:

Usia 0-6 bulan

Saat bayi baru lahir dari usia 0-1 bulan hanya mampu menangis jika ingin menyampaikan kebutuhannya. Pada usia 2-3 bulan, bayi mulai dapat membuat suara-suara seperti “aah” atau “uuh” yang dikenal dengan istilah cooing.

Kemudian, ketika usia bayi beranjak melewati usia 4-6 bulan bayi akan mencari sumber suara yang didengarnya, menyukai mainan yang mengeluarkan suara dan bayi dapat merespons jika namanya sendiri dipanggil. Pada usia mendekati 6 bulan bayi sudah mulai mengenali emosi dalam nada bicara.

Usia 6-12 bulan

Ketika berusia 6-9 bulan, bayi akan mulai memahami nama-nama orang dan benda sekitar serta konsep-konsep dasar seperti ya, tidak dan habis.

Pada usia 9-12 bulan, bayi sudah dapat melihat sumber suara ketika di dengar dan bayi juga sudah mampu memberikan isyarat jika membutuhkan sesuatu, semisalnya menunjuk, merentangkan tangan ke atas untuk minta digendong. Saat usia sudah mencapai 12 bulan biasanya bayi sudah memahami sekitar 70 kata.

Usia 1-2 tahun

Pada usia ini bayi sudah banyak mengerti kosakata baru setiap harinya dan sekitar 50% bicaranya sudah dapat dimengerti orang sekitar.

Usia 2-3 tahun

Pada usia balita ini bisa dikatakan sudah hampir semua ucapan si Kecil sudah di pahami orang lain, karena pada usia ini ia sudah bisa menggabungkan dari 2-3 kata. Balita usia ini juga sudah mampu menyebutkan nama serta kegunaan benda yang cukup sering ia jumpai.

Usia 3-5 tahun

Balita berusia 3-5 tahun ia sudah mulai biasa dan paham terhadap suara yang ia dengar di sekeliling dan anak juga sudah mampu mengenalkan dirinya seperti nama sendiri, usia, siapa nama orang tua, tempat tinggal dan jenis kelamin.

Baca Juga  Menelisik Genetika Autisme, Karena Keturunan?

Dari rentang usia emas ini dari 0-5 tahun perkembangannya sangat cepat, orang tua akan menyaksikan dari anak yang belum mengerti bahasa hingga bisa berbicara dengan lancar. Setelah si Kecil berusia 5 tahun, namun belum mampu mengucapkan kata-kata atau kosakatanya masih sangat terbatas baiknya orang tua perlu memberikan perhatian lebih.

Ini merupakan kondisi gangguan yang berhubungan dengan kemampuan bicara si Kecil secara umum. Dalam hal ini perkembangan anak mengalami keterlambatan yang signifikan. Terdapat beberapa kemungkinan penyebabnya, bisa karena kurang stimulasi, terdapat gangguan pendengaran, dan lain sebagainya. Maka ini perlu untuk diperiksakan ke ahli tumbuh kembang untuk menegakkan diagnosa sehingga dapat ditangani dengan tepat.

2. Speech Disorder

Speech disorder atau gangguan dalam berbicara pada si Kecil yang merupakan suatu kondisi terjadi pada anak yang mengalami kesulitan menciptakan suara dalam menggabungkan kata untuk membentuk kalimat, yang disebabkan adanya gangguan di otak.

Direktur Yamet Child Development Center Tri Gunadi mengatakan dalam live Instagram @generos.id bahwa rata-rata kasus speech disorder terjadi karena adanya gangguan pada area otak, seperti adanya racun dalam otak. Racun dalam otak itu seperti logam berat yang mana menjadi elemen yang kerap mencemari otak yang mengakibatkan speech disorder pada anak.

“Contoh dari keracunan logam berat, seperti merkuri yang ada di ikan laut, atau timbal yang ada di asap kendaraan bermotor, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Sebelum kondisi ini terjadi pada anak Bunda mari kita memperhatikan lagi apa yang akan diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Tidak semua jenis makanan sehat untuk si Kecil karena sel otak masih lemah.  Kadang makanan itu membuat rusaknya sel otak anak Bunda.

3. Late Talker

Merupakan suatu kondisi yang terjadi pada anak yang mengalami gangguan pada perkembangan bahasa ekspresif. Tapi tidak dengan perkembangan motorik dan kognitif lainnya yang tidak mengalami gangguan.

Misalnya ketika si Kecil hanya memiliki kosakata kurang dari 50 kata, sementara sudah memasuki usia 2 tahun. Hal yang dapat Bunda lakukan untuk mengatasi gejala late talker ini seperti: selalu mengajak anak bicara di setiap kesempatan, tidak terburu-buru dalam berbicara padanya dan sering perkaya anak dengan kosakata baru dengan membacakan buku.

Kemudian, perlu untuk diperhatikan dalam memberikan stimulasi untuk anak yang mengalami late talker ini. Dokter spesialis anak dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A, mengatakan bahwa dalam menstimulasinya perlu untuk menyesuaikan perkembangannya saat itu.

Misalnya jika si Kecil yang berusia 2 tahun memiliki kemampuan bicara seperti usia 1 tahun maka stimulasinya seperti memberikan stimulasi untuk anak usia 1 tahun. Dan itu dilakukan bertahap sampai ia bisa mengejar ketertinggalan milestones-nya.

4. Gagap (Stuttering)

Menurut Mayo Clinic, gagap adalah suatu gangguan yang dialami oleh anak kecil dan tidak tertutup kemungkinan juga dialami oleh orang dewasa. Yang mengalami kondisi ini biasanya ketika ingin menyampaikan sesuatu hal tapi sulit untuk menyatakannya.

Gagap memiliki tanda-tanda dari sejak dini seperti: mendapatkan kesulitan ketika ingin berbicara, memanjangkan kalimat pada saat mulai berbicara, sering mengulang kata yang disampaikan, kadang berhenti tiba-tiba jika sedang bicara dan sering menambah kata pada saat bicara. Misalnya, menambahkan kata “um”, “aa” jika ingin berpindah pada kata selanjutnya. Gerakan wajah terlihat cemas, sesak nafas ketika sedang bicara, kelihatan mudah tertekan dan sangat pemalu jika bertemu dan ngomong dengan orang baru.

Baca Juga  Mengharukan! Perjuangan sang Bunda Atasi Speech Delay Buah Hatinya

Biasanya gagap disebabkan oleh gangguan kelainan pada kontrol motorik bicara. Seperti koordinasi sensorik, motorik, kelainan bawaan (genetik), stres dalam keluarga dan bisa juga karena ekspektasi orang tua yang tinggi, sehingga membuat si Kecil stres dan tertekan.

Jika hal ini terus dibiarkan hingga dewasa, si Kecil akan kesulitan dalam bersosialisasi, menurunnya rasa percaya diri dan sangat pemalu ketika bertemu orang baru. Gagap dapat diatasi dengan melakukan perawatan khusus seperti terapi wicara, menggunakan perangkat elektronik untuk meningkatkan kelancaran bicara, atau dilakukan terapi perilaku kognitif.

5. Disartria

Disartria merupakan kondisi yang terjadi saat otot-otot yang digunakan untuk berbicara terlalu lemah sehingga anak sulit untuk mengendalikannya. Kondisi ini, akan berakibat pada cadel atau berbicara terlalu lambat sehingga sulit dipahami. Penyebab kondisi ini terjadi karena gangguan sistem saraf dan kondisi yang menyebabkan kelumpuhan wajah, kelemahan otot lidah atau tenggorokan.

Namun, sebelum terjadi kondisi disartria terdapat tanda-tanda sejak dini seperti: bicara cadel, bicara lambat, ketidakmampuan untuk berbicara lebih keras daripada bisikan atau berbicara terlalu keras, bicara cepat yang sulit dimengerti, suara hidung, serak, atau tegang, irama bicara yang tidak rata atau tidak normal, volume bicara tidak rata, bicara monoton dan kesulitan menggerakkan lidah atau otot wajah.

Pengobatan seseorang yang mengalami disartria bisa dilakukan dengan terapi wicara dan bahasa pada ahli patologi wicara-bahasa.

6. Apraksia

Kondisi apraksia terjadi karena gangguan kesehatan sistem saraf otak namun tidak berkaitan gangguan otot lainnya. Bagi yang mengalami apraksia bicara akan kesulitan mengatur gerakan anggota tubuh saat berbicara, sulit menyampaikan pesan yang ada di dalam pikiran sendiri.

Sebelum kondisi ini terjadi juga terdapat gejala sejak dini seperti terlambatnya kemampuan wicara dari bayi sesuai usianya. Ia kesulitan berbicara pada saat kondisi spontan, nada bicara yang digunakan juga kurang tepat pada kata yang dilontarkan.

Selain itu, ia juga akan kesulitan saat menggabungkan kalimat dari berbagai sumber suara. Tanda lain dari anak yang mengalami apraksia yaitu memiliki nafsu makan yang buruk, seringkali ia susah makan.

Namun perlu diingat bahwa kondisi susah makan tidak serta merta langsung didiagnosa sendiri bahwa si Kecil mengalami apraksia. Perlu ada pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah si Kecil susah makan karena mengalami apraksia atau karena faktor lain. Maka dari itu perlu untuk memeriksakan ke dokter spesialis anak terlebih dahulu.

7. Selective Mutism

Selective mutism atau istilah lain disebut kebisuan selektif. Yaitu suatu kondisi yang terjadi pada anak yang mana sangat mengganggu dalam tumbuh kembang anak jika tidak ditindaklanjuti. Kebisuan selektif disebut juga seperti gangguan kecemasan yang terjadi dalam kondisi tertentu. Seperti, ketika ditempat baru dan bertemu orang baru si Kecil mengalami kecemasan dan terlihat pada wajahnya.

Menurut situs National Health Service, kondisi ini masih bisa berlanjut ketika ia dewasa jika tidak diperhatikan.  Selective mutism bisa ditemui pada 1 dari 140 anak. Anak akan akan mengalami situasi panik, diam membeku bagaikan demam panggung yang parah. Maka dari itu, mereka tidak dapat berbicara sama sekali.

Anak yang mengalami kebisuan selektif terlihat biasa saja tanpa cemas jika bertemu orang terdekat. Ia hanya takut bertemu hal baru atau orang-orang baru. Sebelum mendapati kondisi ini pada anak, biasanya ia sudah memperlihatkan beberapa tanda sejak dini.

Misalnya, Anak sering gugup atau gelisah, kasar dan cemberut, kaku dan tegang, keras kepala, agresif, sulit bergaul dengan orang baru dan sangat pemalu. Jika disuruh tampil di depan umum jadi demam panggung, bisa sakit perut, mual bahkan sesak nafas, lalu selalu menempel ke orang terdekatnya.

Baca Juga  Perhatikan, Ini 2 Dampak Buruk KDRT Bagi Mental Anak

Jika orang tua terus mengabaikan kondisi selective mutism maka akan mempengaruhi kehidupan sosial, akademik dan membuat terganggu dalam meraih cita-cita. Menurut seorang dokter yang berprofesi sebagai tumbuh kembang anak, dr. Ajeng Indriastari, Sp.A, anak dengan gangguan ini akan kesulitan saat menghadapi kegiatan sekolah. Misalnya anak bisa kesulitan ketika harus menyanyi di depan kelas atau mengerjakan soal di papan tulis.

Hal yang bisa Ayah Bunda lakukan untuk mengatasi kondisi selective mutism yaitu:

  1. Memberikan apresiasi atau beri dukungan ketika anak berani melakukan hal baru dan positif, tidak dengan memaksa anak harus melakukan keberanian seperti yang orang tua inginkan. Karena anak yang mengalami gejala ini membutuhkan waktu lama untuk bisa menerima dan menyesuaikan diri.
  2. Jika anak Bunda belum mampu untuk melawan kecemasan pada diri sendiri, masih tetap diam dan cemas ketika di luar rumah. Maka Bunda perlu konsultasikan ke ahli dokter anak dan dokter tumbuh kembang.
  3. Jika cara di atas tidak mampu menangani kondisi si Kecil, Ayah Bunda bisa melakukan  terapi  khusus untuk buah hati tercinta yang direkomendasikan oleh dokter speasialis perkembangan anak.

8. Language Delay

Language delay atau keterlambatan bahasa ini tidak sama dengan anak yang mengalami speech delay. Keterlambatan bahasa pada anak ini maksudnya adalah terlambatnya perkembangan bahasa anak dibandingkan anak lain seusianya.

Language delay juga terbagi menjadi 2 macam yaitu: keterlambatan pada pemahaman bahasa dan keterlambatan pada penggunaan bahasa yang digunakan. Dan dalam keterlambatan bahasa juga memiliki bagian lain yakni,

  1. Keterlambatan bahasa primer, yaitu ketika diagnosis yang muncul hanyalah keterlambatan bahasa tanpa ada keterlambatan perkembangan dalam aspek lain.
  2. Keterlambatan bahasa sekunder, yaitu ketika diagnosis yang muncul adalah anak mengalami keterlambatan bahasa disertai dengan adanya gangguan lain seperti autisme, gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan global atau global development delay. Keterlambatan kemampuan bahasa disebabkan karena perpaduan antara genetik dan lingkungan. Kemampuan bahasa ini muncul ketika anak berada dalam situasi di mana mereka dihadapkan pada bahasa dan interaksi sosial yang normal. Sehingga interaksi dengan lingkungannya menjadi faktor penting dalam melatih kemampuan bahasa si Kecil.
Membaca buku cerita dapat meningkatkan kemampuan bicara si Kecil

Membaca buku cerita dapat meningkatkan kemampuan bicara si Kecil

Dari beberapa jenis permasalahan yang sering terjadi pada bicara atau bahasa anak di atas Ayah Bunda jangan terlalu cemas. Berikut ini Tips sederhana yang bisa Ayah Bunda lakukan sejak dini:

  1. Ajak si Kecil mengobrol sejak bayi. Meskipun bayi itu belum mengerti dan belum bisa menanggapi apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya, ini bisa menjadi tabungan kosakata untuknya. Ajak ia mengobrol pada setiap kesempatan seperti ketika memandikan, mengganti bajunya, saat memberi makan dan mengajak bicara ketika Ayah dan Bunda melakukan apapun.
  2. Tidak hanya mengobrol, Ayah dan Bunda dapat mengajaknya membaca buku cerita sesuai usianya dengan gambar-gambar yang menarik. Ini sangat baik untuk menambah kosakata si Kecil.
  3. Si Kecil akan lebih banyak memperhatikan lingkungan sekitar, meniru apa yang dilakukan dan mencoba-coba apa yang dilakukan orang sekitar dengan caranya sendiri. Maka manfaatkan momen untuk orang tua dalam memberikan teladan baik pada masa golden age anak agar ia tumbuh dan berkembang dengan positif.
  4. Selalu perhatikan setiap tumbuh kembangnya, jangan sampai si Kecil mengalami keterlambatan tumbuh kembang tapi orang tua tidak menyadarinya.
  5. Jika dengan cara stimulasi yang orang tua lakukan belum mampu mengatasi permasalahan bicara pada anak, Ayah Bunda bisa melakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk melakukan tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhannya.

 

Jangan Sampai Tidak Tahu! Ini 8 Penyebab Tantrum Pada si Kecil

GENEROS.ID - Mengatasi tantrum pada sang buah hati memang tidak mudah, selain butuh kesabaran ekstra, diperlukan waktu dan perhatian lebih agar Ibu dan Ayah dapat mencermati berbagai kemungkinan penyebabnya. Mungkin Bunda dan Ayah juga akan merasakan jengkel jika sang...