Bisakah Anak Speech Delay Akibat Orang Tua sering Bertengkar?

by | Sep 3, 2022 | Kesehatan Mental, Keluarga

Generos.id – Lingkungan merupakan faktor penting dalam tumbuh kembang anak, khususnya keluarga. Terbentuknya sikap anak dan perkembangan anak berasal dari pola asuh di lingkungan keluarganya. Namun, terkadang situasi lingkungan keluarga anak yang tidak berjalan semestinya. Salah satunya orang tua yang sering bertengkar ataupun cekcok. Tentu, ada efek jangka panjang yang akan menimpa anak, seperti anak speech delay. Benarkah demikian?

Tidak ada orang tua yang menginginkan ada pertengkaran dalam rumah tangga. Namun, tak dipungkiri bahwa setiap pasangan pasti mengalami cekcok dalam rumah tangganya. Penyebabnya bisa karena masalah kecil atau sebaliknya,  masalah fatal. Jika ini terjadi secara berulang akan muncul api kemarahan yang timbul dari salah satu dari pasangan. Tanpa disadari, kita bisa bertengkar dengan pasangan di hadapan anak. Jika begitu, apa yang akan dirasakan anak?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang anak speech delay akibat orang tua sering bertengkar. Kita pahami dulu sumbu yang menjadi pemicu pertengkaran dari pasangan berikut ini.

Penyebab Orang tua Sering Bertengkar

Stres

Tidak dapat disangkal bahwa setiap orang pasti mengalami stres. Hanya saja tingkatan stres tiap orang yang berbeda. Saat masih single maupun sudah menjadi suami istri tetap akan merasakan tekanan akibat beberapa masalah. Masalah ini akan memicu stres dan menyebabkan orang tua sering bertengkar. Contohnya, saat pandemi sebelumnya, beberapa kepala keluarga mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Akibatnya, keluarga harus cari cara agar ekonomi keluarga tetap stabil. Tapi jika antar pasangan tidak saling mendukung dan hanya menyalahkan satu sama lain. Bukan mendapatkan jalan keluar dari masalah tersebut, malah hanya menambah pertikaian antar suami istri. 

Masalah keuangan

Kita semua tahu, keuangan merupakan ujung tombak dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Memang uang bukanlah segalanya dan tidak semua hal bisa didapatkan dengan uang. Namun, kita tidak dapat menafikan bahwa uang merupakan sesuatu yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi setelah kita membina rumah tangga, kebutuhan semakin meningkat. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus dapat memenuhinya.

Tak jarang, orang tua sering bertengkar tentang masalah keuangan di hadapan anak. Kadang hal ini tak sengaja terjadi karena masing-masing pasangan tidak bisa mengontrol emosi. Contohnya saat perlengkapan anak habis, Bunda minta ke Ayah dengan marah-marah. Ayah pun juga akan meresponnya dengan amarah pula. Akhirnya satu sama lain akan berburuk sangka kepada pasangan karena tidak pintar mengatur keuangan keluarga.

Perbedaan Pola Asuh

Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda, walaupun mereka bersaudara. Kalimat ini bisa diterapkan ke alam bawah sadar kita bahwa setiap anak unik dan berbeda dengan yang lain. Begitu pula cara kita dalam mengatasinya. Terkadang, Ayah dan Bunda akan menemui kebingungan saat mengasuh anak. Kita pasti berpikir apakah anak akan cocok dengan pola asuh A atau pola asuh B. Belum lagi masing-masing suami istri yang menginginkan anaknya menjadi orang yang hebat dalam akademik maupun seni.

Baca Juga  Saya Bersyukur Bertemu Generos Nutrisi Otak Anak

Perbedaan pendapat tentang anak ini bisa menjadi api yang kecil antar pasangan. Namun jangan heran jika Ayah dan Bunda tidak ada yang mau berkompromi. Hanya menyebabkan anak melihat orang tua sering bertengkar. Padahal seorang anak juga sudah bisa mempunyai bakat tertentu. Hanya saja, orang tua tinggal membimbing dan memfasilitasi anak dalam mengembangkan bakatnya.

Pola Asuh Penunjang Perkembangan Bahasa dan Bicara Anak

Pola merupakan sebuah sistem atau cara kerja, sedangkan asuh merupakan menjaga atau membimbing.  Menurut M. Sochib, pola asuh adalah upaya orang tua yang diterapkan terhadap lingkungan fisik maupun sosial, serta menentukan perilaku anak agar sesuai dengan nilai norma yang berlaku di masyarakat. Tak dipungkiri, pola asuh maupun lingkungan merupakan faktor penting dalam perkembangan bahasa dan bicara anak.

Pola asuh yang dilakukan orang tua saat masa emas anak akan membentuknya menjadi anak yang lebih kuat dan mandiri saat bersosialisasi. Adanya kerja sama yang apik antar pasangan akan membuat anak mendapatkan bimbingan dan kasih sayang dari segala aktivitasnya. Sehingga meningkatkan kemampuan bicara anak sejak dini.

Anak-anak layaknya kanvas kosong. Semua aktivitas ataupun tingkah laku sekitar anak yang terlihat dapat direkam dan ditiru oleh anak. Termasuk segala tingkah laku yang Ayah dan Bunda lakukan selama berada di dekat anak. Bisa disebut dengan role model, mulai dari orangtua saat berbicara bisa diikuti anak.

Pola Asuh yang Memicu Anak Speech Delay

Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan keterlambatan bicara muncul dalam keluarga yang menerapkan pola asuh otoriter, permisif, maupun penelantar. Pada pola pengasuhan otoriter, orang tua lebih banyak menuntut anak supaya bisa melakukan segala hal yang diperintahkan, tanpa membimbing ataupun merespon baik. Orang tua otoriter akan menegaskan posisi mereka sebagai ayah dan ibu yang harus dihormati anak, agar anak tidak membantah perintah. Sehingga anak cenderung tidak mampu mengeluarkan pendapatnya, kesulitan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Karena yang ia takuti adalah kemarahan atau hukuman dari orang tuanya.

orang-tua-sering-bertengkar-depan-anak

Pola asuh yang harus dihindari orang tua

Sedangkan pola asuh permisif Orang tua akan membiarkan anak untuk melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan. Sehingga tak ada batasan dan konflik yang berat dalam mengasuh anak. Namun, anak yang diterapkan dengan pola asuh ini akan mudah lemah dengan keputusan yang kurang tepat. Akibatnya, anak tidak akan siap jika di masyarakat nanti, ia akan mengambil keputusan yang skalanya berat.

Terakhir, pola asuh lalai yang dimana orang tua lebih cenderung mengabaikan anak mereka. Orang tua tidak menuntut anak, tapi juga tidak memberikan respon yang baik pula. Orang tua lebih memilih lepas tangan dalam mengurus anak. Parahnya lagi, orang tua tidak akan peduli dan sedikit memberikan bimbingan. Maupun penelantar ditandai dengan kurangnya komunikasi dengan orang tua dan kecenderungan anak untuk dibiarkan menggunakan gawai secara berlebihan, dan orang tua yang tidak menerapkan kedisiplinan secara konsisten.

Baca Juga  Tes Minat Bakat Anak Sejak Dini, Perlukah?

Dalam kasus pola asuh khusus untuk anak speech delay maupun tidak, dibutuhkan pola asuh yang sesuai dengan anaknya. tentu saja kita tidak bisa menerapkan pola asuh yang telah disebutkan tadi. Munculnya pertikaian ataupun ketidakpedulian antar pasangan dalam mengasuh anak akan memicu dampak yang tidak baik untuk anak. Karena orang tua dan keluarga merupakan dasar pembentuk kepribadian anak.

Efek orang tua sering bertengkar depan anak

Anak biasanya mencerminkan cara ayah dan bunda bicara. Termasuk juga penggunaan kata-kata. Orangtua yang sering mengucapkan kata-kata tertentu bisa ditiru oleh anak. Contohnya ketika orang tua atau orang dewasa sekitar anak sering mengucapkan kata-kata kasar atau kotor. Maka, jangan heran jika anak bisa meniru hal tersebut. Terlebih lagi jika orang tua sering bertengkar dihadapan anak. Anak bisa merekam kejadian tersebut, fatalnya anak bisa ikut marah karena role model, yaitu orang tuanya sering bertengkar.

Jadi, secara psikologis, peniruan atau modeling bisa terjadi pada anak-anak diakibatkan oleh lingkungan sekitarnya, khususnya orang tua yang ada di sekitar anak. Apalagi jika orang tua yang mempunyai anak speech delay, terkadang perselisihan bisa terjadi akibat stimulasi yang berbeda antara Ayah dan Bunda. Anak yang melihat belum memiliki nalar yang baik dan membutuhkan banyak sekali eksplorasi. Sudah dapat dibayangkan jika pola asuh yang diiringi pertikaian akan mempengaruhi tumbuh kembang anak, bukan?

Timbul Trauma

Tak hanya itu, bahkan orang tua sering bertengkar depan anak akan menimbulkan trauma yang cukup dalam. Bahkan, anak bisa mengalami mimpi buruk sehingga kesusahan tidur. Ini merupakan buah dari perilaku orang tuanya yang sering bertengkar. Dampak ini bisa terbawa sampai anak dewasa. Tak disangka, orang tua malah menoreh luka pada anak. Sehingga ia kesusahan hingga dewasa.

Anak tidak percaya dengan hubungan keluarga

Tak hanya trauma yang akan melekat pada anak hingga dewasa, buah dari orang tua sering bertengkar lainnya ialah ketidak percayaan anak terhadap hubungan keluarga. Orang tua sering bertengkar, tidak pernah berbicara lembut atau dari hati ke hati dengan anak, dan parahnya lagi ada kekerasan dalam rumah tangga. Anak akan kesulitan mempercayai orang lain dan cenderung mencap harga dirinya yang rendah.

Padahal keluarga dibentuk supaya jadi tempat pulang dan tempat penyelesaian masalah untuk anak. Jika antara Ayah dan Bunda kan cekcok terus menerus tanpa ada yang mau mengalah. Tentunya hanya akan menambah kekecewaan dan luka untuk anak. Anak akan menganggap keluarga hanyalah sumber luka yang akan mempengaruhi mentalnya. Sehingga ia mencari pelarian lain yang tidak ada kaitannya dengan membina hubungan sebuah keluarga.

Anak Alami Speech Delay

Selain untuk menyampaikan apa yang anak inginkan, berbicara juga memiliki fungsi untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. Terkait dengan emosi, menjadi penting bagi individu untuk mengekspresikannya begitu juga pada anak. Ketika anak tidak mampu mengungkapkan perasaanya terlebih emosi negatif seperti marah atau kesal akan suatu hal yang mengganggunya, anak cenderung akan menjadi tantrum, berteriak, menangis dengan kencang atau melempar barang.

Baca Juga  Ternyata Kak Seto Pernah Gagap, Loh!

Ketika anak paham bahwa ayah dan ibunya sedang bertengkar, anak merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk diam. Ada pasangan rumah tangga yang punya kecenderungan untuk menunjukkan konflik di depan orang, namun justru enggan secara terang terangan menunjukkan kasih sayang. Tentu saja diamnya seorang anak tidak bagus untuk tumbuh kembangnya. Oleh sebab itu, Bunda akan memahami lebih lanjut anak speech delay akibat orang tua sering bertengkar di bawah ini.

Bisakah anak mengalami speech delay akibat orang tua sering bertengkar

Setelah mendapatkan penjelasan panjang di atas. tentu kita ingin mengetahui adakah korelasi antara speech delay dan orang tua sering bertengkar. Jawabannya adalah bisa terjadi. Menurut Cantia Mutia M.Psi yang merupakan dosen psikolog di salah satu Universitas Yogyakarta menjelaskan bahwa orang tua yang sering bertengkar menjadi satu faktor penyebab anak mengalami speech delay. 

Jika Ayah dan Bunda bertengkar terus setiap hari dilakukan di depan anak. tentu akan ada efek panjang yang akan dirasakannya. Walaupun masih anak-anak, ia bisa merasakan bahwa tidak disukai di keluarga. Anak berpikir orang tuanya selalu bertengkar akibat dirinya. Apalagi jika orang tua yang marah dengan membawa nama anaknya. Sudah tentu anak akan melihat ekspresi dari orang tuanya. Saat itu terjadi, anak akan mengalami trauma yang cukup berdampak, salah satunya anak speech delay.

Ayah dan Bunda juga harus menunjukkan kehidupan pernikahan Ayah Bunda itu tidak hanya berupa konflik. Setelah adanya konflik, terbitlah solusi. Orangtua juga harus menunjukkan kepada anak bahwa di setiap masalah ada solusinya dan bisa terselesaikan. Dari situ anak bisa belajar merasakan emosi dan bisa belajar memvalidasi perasaannya.

Hal ini dikarenakan kemampuan komunikasi anak yang terbatas dan ia tidak mampu mengungkapkan secara verbal. Keterbatasan anak dalam komunikasi membuatnya menggunakan kemampuan komunikasinya dalam bentuk lain seperti berteriak atau menangis untuk mengungkapkan perasaannya

Tentu saja orang tua mana yang menginkan anak mengalami speech delay? Jawabannya tidak ada. Namun, kita juga tidak dapat menghindari pertikaian yang akan selalu ada dalam kehidupan rumah tangga. Lalu apa solusinya? Pikirkan baik-baik. Menjadi seorang orang tua berarti juga menjadi role model untuk anak-anak. Jika menginginkan anak yang komunikatif, periang, dan tangguh dalam menyelesaikan masalahnya di masa depan nanti, maka orang tua juga harus mencontohkannya sedemikian rupa.

Komunikasi sangat penting dalam pola asuh agar anak merasa mendapat dukungan dari pihak keluarga. Selain itu, orangtua bisa saling bergantian saat melakukan kegiatan bersama anak seperti membaca dongeng atau menyanyi bersama. Dengan begitu, anak tetap ceria dan komunikatif dengan adanya motivasi dan kedekatan dari lingkungan keluarga walaupun tak jarang ia bisa melihat orang tua bertengkar.

 

Bunda, Ini 4 Cara Bikin Ayah Merasa Berharga

Keluarga - Keharmonisan rumah tangga menjadi salah satu kunci sukses dalam optimalisasi tumbuh kembang anak. Dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, baik Ayah maupun Bunda harus terus memupuk cinta dan kasih sayang dalam keluarga. Salah satunya dengan menghargai...

3 Tips Mengurangi Pertengkaran di Depan Anak

Keluarga - Pertengkaran antara suami dan istri kerap kali terjadi. Pertengkaran menjadi hal yang wajar terjadi karena dua insan yang berbeda tinggal serumah seumur hidup, yang terkadang memunculkan perselisihan. Namun perlu diwaspadai ketika bertengkar di depan anak...

Mengembangkan Kelebihan Anak Speech Delay? Ini 3 Tipsnya!

Speech delay merupakan gangguan yang bisa mempengaruhi kemampuan kognitif maupun karakter anak. Sehingga banyak orang tua yang sudah hilang harapan akan kemampuan sosial anaknya. Padahal belum tentu, anak yang mengalami keterlambatan bicara memiliki kekurangan. Oleh...

Perhatikan Para Bunda! Ini Beda Speech Delay dan Autis pada Anak

Masih banyak orang tua yang salah kaprah tentang gangguan speech delay ataupun  autisme. Ada yang menyangka bahwa anak yang mengalami keterlambatan bicara, berarti memiliki gangguan autisme. Padahal antara speech delay dan autisme memiliki penyebab dan penanganan yang...

Ini 5 Ide Mainan untuk Anak Speech Delay Saat di Rumah

Saat ini, speech delay pada anak masih menjadi fokus semua pihak, termasuk orang tua. Speech delay bagaikan momok yang menakutkan yang bisa dialami oleh anak. Sebab, bahasa dan bicara merupakan komponen penting untuk anak bersosialisasi. Maka, orang tua akan melakukan...