fbpx

Alasan Ibu Membunuh Bayi 5 bulan tewas di Surabaya, Benarkah ada Baby Blues?

by | Jun 29, 2022 | Keluarga, Kesehatan Mental

Keluarga – Dunia parenting kembali dikejutkan kembali dengan berita bayi 5 bulan yang tewas saat ditinggal orang tuanya gathering. Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa bayi sekecil itu ditinggal hingga tewas sendirian di rumah. Namun perlahan kasus tersebut menguak. Miris, ternyata yang menyebabkan bayi tersebut meninggal akibat ibu kandungnya sendiri. Benarkah karena baby blues?

Publik makin dibuat prihatin lag dengan ibu kandung yang membunuh anaknya sendiri. Dilansir dari Kompas Surabaya, Peristiwa terjadi saat ditemukan jasad bayi laki-laki berusia 5 bulan,. Saat ditemukan, bayi tersebut sudah membusuk di dalam rumah di Jalan Siwalankerto, Surabaya Sabtu (25/6).

Setelah diselidiki oleh polisi setempat, ternyata bayi tersebut sudah meninggal sejak Rabu (22/6). Malangnya bayi tersebut dibiarkan membusuk oleh neneknyq. Nenek bayi tidak berani melapor karena ada ancaman dari anaknya alias ibu kandung dari jasad bayi tersebut.

Usut punya usut, ternyata bayi tersebut dititipkan kepada nenenknya dalam keadaan sudah meninggal. Ibu kandung yang berinisial RI mengancam akan membunuh sang nenek jika memberitahu kondisi bayi kepada saudara maupun tetangganya. hal ini yang membuat akhirnya nenek bungkam, hingga hari kelima baru memberi tahu tetangga karena sudah tidak tahan dengan bau busuk dari bayi yang telah tewas tersebut.

Penyebab Tewasnya Bayi

Setelah dilakukan visum terhadap tubuh bayi tersebut, ditemuakn adanya bekas memar di tubuh korban akibat benturan benda tumpul. Penyelidikan terakhir, diduga kuat terjadi penganiayaan pada bayi tersebut. Hasilnya, ibu kandung tersebut menjadi tersangka atas meninggalnya bayi.

Baca Juga  Biar nggak Burnout, Yuk Terapkan Mindfulness!

Pernyataan ini semakin menguat karena penjelasan dari Kapolsek Wonocolo, Kompol Roycke H.F Betubuan. Ia mengatakan bahwa korban dianiaya oleh ibu kandungnya sendiri. Adapun si Ibu juga sudah mengakui bahwa anak kandungnya sudah dianiaya berulang kali. Motif tersangka menganiaya karena jengkel akibat bayi yang terlalu rewel saat ia dan suami bertengkar.

“Alasannya karena jengkel. Korban suka rewel apabila tersangka berantem dengan suaminya. Korban sempat dilempar ke tempat tidur dalam kondisi terlentang dan dipukul bagian punggungnya,” ujar Roycke dilansir dari pikiran-rakyat.com

Mungkinkah Ibu Mengalami Baby Blues?

Menjadi seorang ibu merupakan tanggung jawab baru bagi setiap wanita yang melahirkan. Tak jarang hampir semua ibu merasakan stres. Sebagian orang menganggap bahwa stres yang dialami oleh ibu hanya bersifat sementara. Namun penelitian bidang psikologi menjelaskan bahwa stres tersbut bisa sangat serius dan mengakibatkan risiko kesehatan jangka panjang. Ditambah lagi jika kondisi keluarga yang tidak mendukung, akibatnya berdampak pada kesehatan fisik dan mental seorang ibu.

Banyak netizen yang menyimpulkan mungkin saja kasus ini disebabkan ibu yang mengalami Baby Blues. Situas tersebut merupakan posisi perempuan yang mengalami rasa sedih setelah melahirkan. Sekitar 4 dari lima ibu yang baru melahirkan mengalami baby blues. Kondisi tersebut biasanya dialami pasca dua minggu ibu melahirkan. Setelahnya, sindrom ini akan hilang sendiri dan tidak akan bertahan lama.

Baca Juga  5 Tips Agar Bunda Tidak Lupa Bawa Kantong Belanja

Namun, ada juga yang mengalami perasaan sedih lebih dari dua minggu. Ada kemungkinan ibu mengalami kondisi depresi yang lebih serius. Dalam kondisisi medis disebut dengan postpartum.

Adapun ciri-ciri kondisi baby blues yang dialami para ibu diantaranya:

  1. Halusinasi
  2. Delusi
  3. Agitasi dan kecemasan
  4. Perubahanan suasana hati yang cepat
  5. Pikiran untuk bunuh diri
  6. Muncul pikiran melukai atau membunuh bayi

Ini Kata Dokter

dr. Andreas, M.Ked, Sp.A menjelaskan kasus tersebut mungkin saja terjadi karena sang ibu mempunyai mempunyai masa traumatik saat kecil. Trauma akan tekanan atau pola asuh dari orang tua yang kurang baik menjadikannya mempunyai sikap tidak koperatif hingga dewasa.

Ketika perempuan yang baru melahirkan dan lingkungan tidak mendukung bisa mengakibatkan peningkatan emosi pada sang Ibu. Ditambah ibu kandung dari bayi 5 bulan tersebut sempat bertengkan dengan sang suami yang menambah beban sang Ibu. Jadi saat ada bayi disekitarnya, ia cenderung akan melupakan posisinya sebagai ibu.

“Dalam keadaan emosi, otak yang mengontrol tentang posisi atau peran kita sebagai ibu bisa menghilang. Apalagi jika emosi tersebut telah terpendam lama dan akhirnya meledak. Akibatnya seseorang bisa cenderung meluapkan kemarahan pada benda atau orang sekitarnya.Dalam kasus ini, bukan karena ibu tidak bisa mengontrol emosi, tetapi karena tidak terbiasa menerima kritikan orang lain. Sehingga ia lebih emosi saat adanya pertengkaran dalam rumah tangga yang menyebabkan anak menjadi sasaran,” Ujarnya saat mengunjungi kantor Generos

Baca Juga  Berikut 6 Tips Bijak Belanja Online Saat Tanggal Cantik

Bagaimanapun menjadi ibu membutuhkan dukungan orang sekitar, termasuk sang suami. Tidak ada panduan parenting yang bisa sesuai untuk setiap anak. Setiap anak memilki karakter yang berbeda, mereka memilki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kenyataannya mengasuh anak memang tidak semudah air mengalir. Mengasuh anak bisa jadi lebih sulit daripada yang kita kira.

baby-blues-ibu-butuh-bantuan-suami

Dalam kasus tersebut, suami dan istri tersebut ternyata nikah secara sirih. Walaupun tidak diketahui alasan mengapa menikah sirih. Bisa jadi ada hubungan yang tidak baik dengan keduanya. Sehingga masing-masing mengalami stres dan cenderung menyalahkan orang lain. Akibatnya anak jadi pelampiasan emosi. Ketika efek baby blues atau postpartum muncul, sesorang bisa berpikir untuk melukai diri sendiri, bahkan berpikir untuk membunuh bayi.e

Oleh sebab itu, suami juga harus ikut turut andi dalam mengasuh anak dan mengurus kehidupan rumah tangga. Sebagi ibu, kita juga harus terbuka dengan suami jika merasa butuh bantuan. Akan banyak hal yang berubah setelah kelahiran bayi. Pembagian tanggung jawab biasanya menjadi pemicu akan perslisihan pendapat antar pasangan. Oleh sebab itu, mencegah baby blues tetap buka jalur komunikasi antar pasangan agar saling memahami perasaan yang dibutuhkan.