fbpx

Kenali Faktor Penyebab Speech Delay pada Anak

by | Feb 8, 2022 | Tumbuh Kembang

Keterlambatan bicara (speech delay) menjadi momok yang jamak terjadi pada anak usia dini saat ini. Perlu penanganan segera untuk mengatasi permasalahan tumbuh kembang anak tersebut. Namun untuk penanganan yang tepat perlu diketahui terlebih dahulu apa yang membuat anak mengalami terlambat bicara. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami terlambat bicara.
Berikut beberapa faktor yang mungkin membuat buah hati Ayah Bunda mengalami speech delay:

1. Gangguan Bicara dan Bahasa

Keterlambatan berbicara merupakan kondisi di mana anak bisa berkomunikasi secara nonverbal namun tidak dapat mengucapkan kata-kata. Adapun gangguan bahasa terjadi saat anak sulit menyusun frasa saat berbicara sehingga pembicaraannya sulit dimengerti oleh orang lain.

Biasanya hal ini terjadi pada anak dengan kelahiran prematur yang berhubungan dengan fungsi otak yang kurang sempurna. Gangguan ini bisa saja menjadi pertanda ketidakmampuannya dalam belajar. Namun tidak menutup kemungkinan faktor lain juga bisa menjadi pemicu, dan tidak semua anak yang lahir prematur mengalaminya.

2. Masalah Neurologis

Speech delay juga bisa disebabkan karena masalah neurologis. Masalah neurologis ini meliputi berbagai masalah pada sistem saraf yang dapat mempengaruhi otot-otot yang diperlukan untuk proses bicara. Faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan bicara adalah karena adanya gangguan di otak, khususnya pada daerah oral motor.

Adanya gangguan ini akan menyebabkan anak mengalami masalah dalam mengolah suara. Lalu, gangguan pada sistem neurologis juga sangat mungkin menyebabkan anak mengalami keterlambatan bicara. Misalnya, anak yang mengalami distrofi otot bisa berpengaruh juga pada otot-otot untuk berbicara sehingga menyebabkan anak mengalami kesulitan memproduksi kata.

Adapun beberapa penyebab masalah neurologis ini di antaranya:

  • Cerebral Palsy, yaitu gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak, paling sering terjadi sebelum kelahiran. Tanda dan gejalanya muncul selama masa bayi atau prasekolah.
  • Cedera otak (traumatic brain injury), adalah semua cedera terkait otak yang mempengaruhi seseorang secara fisik, emosional, dan sikap. Cedera mengakibatkan perubahan aktivitas saraf otak, yang kemudian memengaruhi integritas fisik, aktivitas metabolisme, atau kemampuan fungsional sel-sel saraf di otak.
  • Distrofi otot (muscular dystrophy), yaitu istilah yang merujuk pada sekelompokpenyakit otot. Secara perlahan, otot akan semakin melemah hingga kehilangan kekuatan dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Kerusakan dan kelemahan otot disebabkan oleh kurangnya protein yang disebut dengan distrofin, yaitu protein yang penting dalam fungsi otot normal. Penderita penyakit ini biasanya mengalami kesulitan dalam berjalan, duduk, menelan, serta melakukan gerakan yang membutuhkan koordinasi otot.
Baca Juga  Pahami Bunda! Ternyata Gangguan Sensori Bisa Sebabkan si Kecil Alami Speech Delay, ini Cara Atasinya

3. Autism Spectrum Disorder

(ASD) atau yang biasa dikenal dengan autisme ASD adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan adanya keterlambatan dan gangguan bidang kognitif, perilaku, komunikasi (bahasa), dan interaksi sosial. Anak dengan autisme biasanya juga akan memiliki masalah dalam berkomunikasi. Autisme dan speech delay sangat berhubungan satu sama lain, karena speech delay juga merupakan sebagai gejala dari autisme.

4. Kelainan Organ Bicara

Kelainan organ bicara, seperti lidah pendek, bibir sumbing, kelainan bentuk gigi dan rahang, atau kelainan laring juga akan berpengaruh pada kemampuan berbicara. Sehingga ini seringkali juga menyebabkan si Kecil mengalami speech delay. Misalnya, anak dengan lidah pendek akan kesulitan untuk mengucapkan huruf t, n, r, dan l.

5. Gangguan Pendengaran

Anak dengan gangguan pendengaran juga akan mengalami masalah pada percakapan, gangguan itu membuatnya tidak bisa mendengar percakapan di sekitarnya. Hal ini otomatis akan langsung berpengaruh pada kemampuan bicara dan bahasanya yang membuat ia mengalami speech delay.

Baca Juga  Pahami Perbedaan Speech Delay dan Apraksia pada Anak

Gangguan pendengaran ini bisa terjadi karena trauma, infeksi, kelainan bawaan, infeksi saat hamil, atau pengaruh obat yang dikonsumsi ibu saat hamil. Waspadai jika bayi tidak menoleh saat dipanggil atau tidak merespons saat diajak berinteraksi. Jika gangguan pendengaran adalah penyebabnya, segera kunjungi dokter anak untuk memastikan apakah anak mengalami gangguan pendengaran atau tidak.

6. Kurang Stimulasi

Terkadang anak mengalami keterlambatan berbicara hanya karena lingkungannya yang kurang mendukung. Kurangnya interaksi dengan orang tua maupun pengasuh lainnya membuat anak tidak mendapatkan stimulasi yang seharusnya ia dapatkan pada usia belajar berbicara akibatnya anak tidak mendapatkan contoh bagaimana berbicara dan tidak mendapatkan media untuk belajar berbicara.

Anak yang sering diabaikan dan tidak ditanggapi saat sedang berusaha mengungkapkan sesuatu akan berpengaruh pada kondisi psikologisnya. Hal ini akan membuat anak menjadi minder untuk mencoba berbicara. Berbagai alasan tersebut membuat si Kecil dapat mengalami speech delay.

Simulasi pada Anak

Stimulasi pada Anak untuk Mencegah Speech Delay

7. Terlalu lama Screen Time

Screen time atau paparan layar tidak hanya pada gawai atau gadget saja, tapi layar televisi juga memberikan efek yang sama terhadap tumbuh kembang anak, khususnya kemampuan berbicara. Semakin dini anak terpapar televisi dan gawai maka semakin besar kemungkinan anak mengalami keterlambatan berbicara.

Oleh karena itu para ahli menganjurkan agar anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak diperkenalkan pada televisi dan gawai dahulu. Artinya, seharusnya balita berusia di bawah dua tahun sama sekali belum terpapar layar televisi dan gadget. Sedangkan untuk balita berusia dua tahun hanya boleh terpapar satu jam per hari. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh kembangnya dalam hal ini perkembangan bicaranya tidak terganggu.

Hasil studi menunjukkan bahwa anak yang terlalu sering bermain gagdet akan mempengaruhi fungsi otak dan menyebabkan anak menjadi kurang perhatian terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, penulis buku Brain: Surviving The Technological Alternationf of the Modern Mind, dr. Gary Small mengatakan anak-anak yang menghabiskan waktu terlalu banyak dengan teknologi, akan mengurangi interaksi dan mengganggu keterampilan komunikasi mereka.

Baca Juga  Lagi Viral, Ini 4 Manfaat Bermain Latto-latto

Oleh sebab itu orang tua perlu bijak dalam memberikan gadget pada anak balita. Jangan hanya karena anak menangis lalu orang tua tidak tega dan langsung memberikan gadget untuk menenangkannya. Sebaiknya berikan gadget saat anak sudah bisa berbicara dan bisa diajak berkomitmen untuk batas waktu bermain gadget. Karena ini juga bisa menjadi sumber penyebab si Kecil mengalami speech delay.

8. Berada di Lingkungan Bilingual atau Multi-lingual

Meskipun tidak semua anak akan mengalami keterlambatan berbicara saat berada di lingkungan bilingual atau multi-lingual, namun sebaiknya dilakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi hal buruk pada anak. Kemampuan otak anak memang berbeda-beda, ada anak yang tidak masalah dalam memahami dua bahasa atau lebih sekaligus, namun ada pula anak yang tidak mampu atau kebingungan dalam memahami dua bahasa atau lebih.

Oleh karena itu orang tua harus melihat bagaimana respons anak saat diajak berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, jika anak terlihat kebingungan maka sebaiknya hentikan dulu pengenalan dua bahasa atau lebih. Fokuskan pada satu bahasa ibu sehingga anak bisa berlatih berbicara dengan satu bahasa tersebut sampai si anak bisa berbicara dengan lancar dan bisa dikenalkan dengan bahasa lain.

Ayah dan Bunda harus tanggap dalam melihat keterlambatan bicara pada buah hatinya, dan harus segera dilakukan penanganan agar tidak terjadi berlarut-larut. Selain dapat mengakibatkan anak kesulitan berkomunikasi, speech delay juga berakibat pada sulitnya orang tua memahami keinginan anak.

Hal itu kemudian bisa berdampak serius, anak akan sangat mudah untuk memiliki faktor risiko gangguan jiwa, seperti depresi dan anxiety. Itu disebabkan karena mereka tidak bisa mengekspresikan apa yang mereka mau. Bagi mereka semua perasaan itu tidak nyaman, sebab mereka tidak bisa memberi tahu atau mengekspresikan apakah mereka sedih, marah, atau kecewa.